~Cerpen 1~
Forgive me my best friend
“
Matahari yang begitu lembut menyambutku dipagi ini, serasa ia sangat memahami
diriku yang begitu lelah” Kata Kholiza dalam hati saat ia melangkahkan satu
kakinya keluar dari pintu rumah yang begitu besar itu.
Lelah,
itulah yang begitu kholiza rasakan beberapa hari terakhir, ia benar-benar
merasakannya. Kelelahan yang tidak biasa ia rasakan, gemetar dan juga peluh
yang tak henti-hentinya membasahi tubuh yang begitu mungil. Namun semua itu bukanlah
suatu penghalang untuknya berlari ke kiri dan kekanan mengitari masjid yang
memiliki ukuran sedang itu.
Kholiza
adalah seorang aktivis daqwah kampus yang begitu lincah dan sangat interaktiv,
ia sangat menyukai semua kegiatannya itu, semua hal yang ia lakukan adalah
wujud dari kecintaanya akan aktivitas itu. Semua orang yang ada disekitarnya
begitu mengetahui bagaimana Kholiza melaksanakan semua tugasnya, ia bahkan tak
pernah terlihat mengeluh atau bahkan mengerutkan keningnya karena lelah bahkan
kepada Izani orang yang paling dekat dengannya. Sahabat yang selalu ada di mana
pun kholiza berada, sahabat yang tak pernah membiarkan kholiza mengerjakan apa
pun seorang diri, sahabat yang paling kholiza sayangi, sahabat yang paling
sering menginap di kediaman kholiza. Izani bagaikan kedua tangan kholiza, yang
jika tidak ada Izani Kholiza akan merasakan kesedihan luar biasa bahkan melas
untuk melakukan apa pun.
Namun
hari itu Kholiza meminta Izani pergi dan melakukan tugas di gedung yang berbeda
dengannya, dan semua orang sadar itu adalah hari pertama mereka terpisahkan.
Semua orang merasakan keganjilan yang tidak biasa itu, orang-orang terus
bergantian menebak-nebak dengan hal yang negative ataupun posifi. Terlebih lagi
yang dirasakan Izani, ia merasakan Kholiza begitu berbeda hari itu. Namun ia
hanya memilih untuk diam dan memutuskan untuk bertanya dilain waktu.
“Kholiza,
kamu baik-baik ajakan, gak biasanya pisahan sama Izani”Ujar salah satu orang
sekitarnya yang juga seorang aktivis dakwah itu.
“Hah,,
gak apa apa kok Deli, kebetulan di gedung sebelah kekurangan orang dan aku juga
pengen ke gedung sebelah tapi gak enak ninggalin kerjaan yang sudah setengah
jalan jadi mau nyelesaiin ini dulu baru nyusul Izani”Kata Kholiza yang tenang.
Semua orang pun melupakan hal itu
dan kembali ke dalam kesibukan mereka masing-masing. Beberapa saat berlalu
Kholiza menepati perkataannya untuk menyusul Izani dan juga mengajak Izani dan
beberapa sahabatnya untuk menikmati waktu istirahat mereka bersama.
“Kholiza,
kamu hari ini baik-baik aja.. maaf-maaf bukannya aku gak pengen ke gedung
samping tadi, tapi aku bingung aja kamu tiba-tiba minta misah sama aku gak
biasa”Kata Izani dengan nada candaa.
“Wahh
Kholiza, jangan-jangan Kholiza mau ninggalin kamu Izani, sepertinya sebentar
lagi aka nada orang yang menggantikan posisimu Izani… Hahaa”Canda Kinan seius,
dengan menatap jelas kearah Kholiza.
“Ahh
kalian.. bukan apa-apa kok tebak-tebakan berhadiah kalian salah.. gak aka nada
yang gantiin posisi kalian semua di sini”Tunjuk Kholiza ke arah jantungnya yang
dimaksunya hati.
“Apalagi
Izani gak akan pokoknya”Lanjut Kholiza terharu
Semua orang yang berada di dalam
lingkaran meja itu pun terdiam dan saling meneteskan air mata, dan tanpa mereka
sadari mereka berdiri dari duduk mereka kemudian saling berpelukan satu sama
lain.
“Ahh
cukup-cukup nanti makanan ini bakalan jardi berkuah gara-gara air mata kita,
jadi cukup ayoo kita makan”Dengan sigap Kinan melahap hidangan itu.
Mereka semua pun asing dengan
hidangan mereka masing-masing namun tidak dengan Izani, ia sangat menyadari
bahwa sahabat terdekatnya ini begitu berubah. “Ini bukan Kholiza yang biasanya, Kholiza gak pernah gitu, Kholiza gak
pernah memulai percakapan yang akan membuat orang lain sedih”Lirih Izani
dalam hati sambil terus menatap Kholiza. Koliza pun menyadari hal itu namun ia
terus saja menundukan kepalanya namun tanpa mereka semua sadari Kholiza terus
saja meneteskan air mata.
“Loh
loh.. Kholiza kenapa”Tembak Kinan yang melihat setetes air mata Kholiza yang
terjatuh.
Kholiza pun menghentikan suapannya
dan menatap secara merata seluruh sahabatnya, sambil terus menetekan butiran
air mata kecil. Namun ia hanya terdiam lalu menghapus air matanya tanpa
mengklarifikasi apa pun kepada semua sahabatnya, mereka semua pun hanya terdiam
sambil terus memaksa makan itu untuk masuk ke dalam perut mereka.
“Kholiza
gak papa, serius. Kholiza cuma terharu aja kita udah laluin 3 Ramadhan
bareng-bareng di kampus, dan gak terasa Ramadhan tahun depan InsyaAllah kita
semua udah pisah, udah gak bakal habisin setengah ramadhan kita di kampus, kita
gak bakal siap-siapin takjil bareng-bareng lagi pokoknya bakalan jalan
sendiri-sendiri, pokoknya Kholiza sedih. Koliz gak mau pisah sama kalian semua,
tapi Kholiza juga pengen lulus tapi juga gak mau pisah gimana dong”Tangisan
campur canda tawa Kholiza keluarkan.
Semuanya pun kembali tertawa haru
namun sambil terus menikmati hidangan mereka masing-masing. Akhirnya tiba waktunya
mereka semua kembali menjalankan tugas mereka sebagai seorang aktivis dakwah
kampus. Acara yang begitu besar membuat semua orang sibuk dengan pekerjaan
dengan bidang mereka masing-masing begitu juga dengan Kholiza yang terus menggerakan
tubuhnya tanpa henti ia bergerak dengan begitu riangnya, sigapnya dan begitu
bersemangat. Sesekali beberapa orang melihat ke arah Kholiza dengan melemparkan
teguran kecil “Kholiza, jagan terlalu
sibuk nanti bakal capek banget loh” Namun lagi-lagi itu semua hanya Kholiza
balas dengan senyuman kecil tak lupa dengan pelukan yang begitu melebur.
“Kholiza
semangat banget MasyaAllah ini acara yang kesekian kali dipegang tapi ini acara
yang paling semangat dia kerjain. Dari beberapa hari yang lalu dia gak kayak
manusia lagi tapi udah kayak manusia setengah robot yang gak keliatan capek
sama sekali. Itu anak luar biasa banget ”Ujar salah satu panitia yang juga
tetangganya.
Kesibukan hari itu pun usai, semua
orang telah kembali ke kediaman mereka masing-masing tapi tidak dengan Izani
yang masih duduk berdiam di halaman masjid yang begitu besar. Ia terus mencari
tau akan hal yang membuat sahabat terdekatnya itu berubah, ia terus
menyambungkan dan memikirkan bahkan mereka ulang semua prilaku Kholiza beberapa
hari terakhir. Hingga Kinan yang telah berlalu dengan mobil kecilnya itu
memutar dan menghampiri Izani.
“Kamu
kenapa Izani?”Tanya Kinan singkat.
“Gak
papa lagi mikirin Kholiz aja yang tiba-tiba berubah, tiba-tiba semangat banget
megang acara, berasa itu tadi acara terakhirnya”Jawab Izani yang masih
menerawang dengan tatapan tajam ke depan.
“Ehh
Izani, sih Kholiz lagi sakit ya. Aku perhatiin tadi pas di kamar mandi dia
pucat banget tapi buat nutupin pucatnya dia pake lipstick, aku bener-bener
kaget liat orang kayak Kholiz tiba-tiba pake lipstick. Tapi aku juga gak
nanya-nanya sih soalnya dia juga langsung pamit pergi kalau ketemu dia salam ya
dari Tsabina”Kata Tsabina salah satu teman kelas Kholiza dan Izani.
Hal
itu membuat Izani sedikit demi sedikit memahami Kholiza, dan tanpa berfikir
panjang ia pun mengajak Kinan bergegas menuju kediaman Kholiza. Izani yang
begitu akrab dengan keluarga itu pun mengetok pintu dengan terburu-buru namun
tak ada orang yang membuka pintu itu, akhirnya Izani memutuskan untuk langsung
menerobos pintu utama dan langsung berlari menuju kamar Kholiza dan perasaan
Izani tidaklah berbohong di dalam ruangan itu Kholiza sudah terbaring lesu
dengan baju yang di penuhi dengan darah segar dan juga dikelilingi semua
keluarga.
Izani
langsung berlari dan memeluk Kholiza yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
“Kholiza..
Kholiza.. ini Izani kamu kenalkan ini Izani sahabatmu saudaramu Kholiz, Kholiz
kenapa kamu gak bilang, kenapa kamu diam, kenapa kamu sembunyiin semuanya dari
kami bahkan dari aku Kholiz, KENAPA….”Teriak Izani yang diiringi Isak tangis
yang begitu kencang.
Kinan Hanya berdiri membisu sambil
mengabarkan keadaan Kholiza kepada beberapa sahabatnya, namun dengan perlahan
ia juga menghampiri Kholiza yang sudah terbaring begitu lesu.
“Kho,
kenapa kamu gak bilang ke kita. Kenapa kamu simpan ini semua sendiri kenapa
kamu ngerasaiin penderitaanya sendiri Kho”Tangis Kinan yang juga mulai memecah.
“Maafin
Kholiza ya semuanya”Jawabnya dengan begitu pelan dengan iringan batuk yang
terus menyemburkan darah-darah segar.
“Maafin
Kholiza ya semuanya” Kata-kata itu menjadi kata penutup hidup Kholiza
sebelum kalimat Tauhid. Kini Kholiza benar-benar telah pergi, satu hari full
telah menjadi waktu perpisahan Kholiza kepada semua orang, didetik-detik
terakhi hiduprnya ia terus mencurahkan semua tenaganya untuk mensukseskan acara
ramadhan kampus yang juga benar-benar menjadi acara terakhi dan acara tersukses
kampus itu.
Kholiza sudah memberikan salam
perpisahannya kepada semua orang, Kholiza yang tak tau itu akan menjadi
Ramadhan terakhirnya berhasil membuat semua orang akan mengenangnya disetiap
bulan berkah itu, semua orang akan selalu mengingatnya dengan Ramadhan. Kholiza
berhasil menjadikan Ramadhan terakhinya itu menjadi sebuah kenangan yang tidak
akan begitu dilupakan semua orang di kampus itu. Semua orang tau Kholiza
berhasil menang di ramadhan terakhinya di hadapan manusia dan InsyaAllah juga
di hadapan Allah.
Kholiza menyadari kemungkinan yang
begitu besar, kemungkinan itu akan menjadi ramadhan terakhirnya namun iya
bahkan tak mengeluh atau berdiam meresapi sakit yang begitu menggerogotinya di
atas tempat tidur. Melainkan ia menghabiskan rasa sakitnya itu di tengah ratusan
anak yatim yang ada di acara, ia meresapi rasa sakit itu sambil berlari,
melangkah untuk memenuhi kesuksesan acara itu.
Kholiza, Ia seorang Aktivis Dakwah
sekaligus seorang Organisator yang benar-benar menghabiskan sisah hidupnya
untuk menjalankan tanggug jawabnya bahkan menjadikannya acara yang begitu
sukses bukannya acara yang setengah sukses karena pelaksananya menderita sakit
keras. Iya Menang di Ramadhan terakhinya ~Kholiza~
Komentar
Posting Komentar